ANGKLUNG #29 EMISI

ANGKLUNG #29 EMISI

                Menurut data yang dirilis oleh World Resource Institude, Indonesia menempati peringkat ke-6 dari 10 negara yang berperan besar dalam menghasilkan emisi di dunia. Namun, apakah kalian tahu apakah emisi itu?. Emisi dapat didefinisikan sebagai hasil pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam dan minyak yang didispersikan ke udara, tergantung pada komposisi bahan bakar serta jenis dan ukuran boiler yang digunakan. Emisi merupakan salah satu penyumbang terbesar pencemaran udara. Hal ini menyebabkan penurunan kualitas udara yang dapat menganggu kesehatan manusia. (Sulaiman, 2019)

                Setiap kendaraan bermesin pasti akan mengeluarkan emisi gas buang.Emisi gas buang artinya sisa pembakaran yang terjadi di dalam mesin alias internal combustion engine lalu keluar lewat manifold hingga ke knalpot. Dalam emisi gas buang ini terdapat sejumlah unsur kimia seperti air (H2O), karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), hidrokarbon (HC). Senyawa kimia yang menjadi pencemar adalah CO, CO2, NOx, dan HC. Namun, yang menjadi fokus dalam pengujian emisi gas buang di Indonesia adalah CO dan HC. Utamanya karena CO dan HC merupakan gas buang yang bersifat racun bagi manusia dan bisa menimbulkan beberapa penyakit. Hal ini bisa dilihat di Peraturan Menteri No. 5 Tahun 2006 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama. Di sana disebutkan, ambang batas CO untuk mobil mesin bensin produksi di atas 2007 adalah 1,5% Vol. Sementara untuk HC ambang batasnya 200 ppm. (Wijaya, 2019)

                Keracunan gas monoksida (CO) dapat ditandai dari keadaan ringan, berupa pusing, sakit kepala, dan mual. Keadaan yang lebih berat berupa menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskuler, serangan jantung hingga yang paling parah adalah kematian. (Tiarani, 2016)

                Selain gas monoksida, NO2 juga gas yang dihasilkan oleh emisi. NO2 merupakan gas yang toksik bagi manusia dan pada umumnya gas ini dapat menimbulkan gangguan sistem pernapasan. NO2 dapat masuk ke paru-paru dan membentuk Asam Nitrit (HNO2) dan Asam Nitrat (HNO3) yang merusak jaringan mukosa pada tubuh manusia. NO2 dapat meracuni paru-paru. Jika terpapar NO2 pada kadar 5 ppm setelah 5 menit dapat menimbulkan sesak nafas hebat dan pada kadar 100 ppm dapat menimbulkan kematian. (Chahaya, 2003).

                Gas SO2 yang ada di udara dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan kenaikan sekresi mukosa. Dengan konsentrasi 500 ppm SO2 dapat menyebabkan kematian pada manusia. Pada tahun 1938, pencemaran SO2 yang cukup tinggi telah menimbulkan malapetaka yang cukup serius seperti yang terjadi di lembuh sungai Nerse Belgia. Pada saat itu, kandungan SO2 di udara mencapai 38 ppm dan menyebabkan toksisitas akut yang mengancam nyawa warga di daerah tersebut (Mulia, 2005).

Adapun beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak dari emisi, yaitu :

    1. Dengan cara menanam pohon. Peran pohon sangat besar dalam menyimpan karbon yang dilepaskan dari atmosfer melalui proses fotosintesis.

    2. Bio Energi melalui Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (BECCS). BECCS adalah sebuah proses untuk menghasilkan energi pada sektor industri, pembangkit listrik atau transportasi menggunakan biomassa; dimana kandungan karbon diserap sebelum dilepaskan kembali ke atmosfer; kemudian disimpan di bawah tanah atau produk tahan lama seperti beton.

    3. Direct Air Capture. Direct air capture merupakan proses kimiawi penangkapan karbon dioksida langsung dari udara normal untuk kemudian disimpan di bawah tanah atau dalam produk tahan lama.

    4. Seawater capture. Seawater capture hampir sama dengan direct air capture, hanya saja di sini CO2 diambil dari air laut, bukan udara. Dengan mengurangi konsentrasi CO2 di lautan, air akan menarik lebih banyak karbon dari udara untuk mencapai keseimbangan.
    (Mulligan, 2018)

Leave a Reply