KISAH KLASIK 59 TAHUN HARI TANI NASIONAL

  • Post Author:
  • Post Category:BERITA
  • Post Comments:0 Comments

               Tanggal 24 September 1960 Undang-Undang Pokok Agraria dibuat. Disitulah petani mulai berdikari dengan sepak terjang barunya, dan pada tanggal itu juga ditetapkan sebagai hari tani nasional atau National Farmer’s Day. Dengan adanya UUPA menjadi langkah awal yang penting bagi nasib petani Indonesia, karena UUPA ini sebagai reshuffle hukum agraria kolonial menjadi hukum agraria nasional yang berlandaskan realitas kehidupan rakyat Indonesia, khususnya para petani. Dalam kebijakan UUPA 1960 ini bukan hanya memberikan kepastian hukum saja, tetapi memiliki tujuan yang hakiki yaitu mengubah susunan masyarakat, dari suatu struktur warisan stelsel feodalisme dan kolonialisme. Dalam kebijakan UUPA tersebut diatur mengenai hak-hak serta kewajiban kaum tani, mengatur hak atas tanah, serta hak atas sumber-sumber agraria untuk dikelola serta dimanfaatkan degan baik. demi terwujudnya “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sesuai yang diamanatkan oleh UUD 1945.

               Tetapi kini pertanian Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Banyaknya permasalahan dan konflik yang terjadi disektor pertanian membuat Indonesia harus menata kembali srateginya melalui Kementerian Pertanian. Karena dalam hal ini Kementerian Pertanian mempunyai peran yang penting dalam menjamin bahwa sistem nasional tersebut dapat dipertahankan dan dibentuk khusus untuk penyediaan barang-barang publik, terutama dalam rangka penyuluhan, regulasi, dan penelitian dalam bidang pertanian. Karena itu dalam hal ini sektor pertanian memiliki peran yang sangat penting dan stategis dalam pembangunan nasional yang mana diantaranya adalah sebagai sumber devisa Negara, memberikan kontribusi terhadap PDB, menyerap tenaga kerja, bahan baku industri, sumber bahan pangan serta mendorong bergeraknya sektor-sektor ekonomi lainnya.

               Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945 dan sampai sekarang sepertinya Indonesia sudah memiliki cukup banyak pengalaman, dimana salah satunya pengalaman menunjukan bahwa sektor pertanian terbukti mampu menjadi penyangga perekonomian nasional saat terjadinya krisis ekonomi. Pengalaman tersebut memberikan sebuah pelajaran yang sangat penting bahwa menggantungkan perekonomian pada kegiatan ekonomi yang tidak berbasis sumber daya ternyata sangat rentan terhadap guncangan dan dinamika lingkungan eksternal.

               Tetapi tingginya kontribusi sektor pertanian ini tidak diikuti degan kesejahteraan petani sebagai aktor dan tokoh utama dalam penggerak sektor pertanian. Banyak sekali faktor penyebab belum tercapainya kesejahteraan petani, salah satu diantaranya adalah belum berpihaknya kebijakan pemerintah melalui kebijakan makro ekonomi. Menurut guru besar ilmu ekonomi FEM (Fakultas Ekonomi Manajemen) IPB Prof. Dr. Muhammad Firdaus, SP, M.Si. “Meskipun akan memasuki 2020, persoalan pembangunan pertanian Indonesia masih bersifat klasik. Persoalan itu mencakup masih belum tercapainya produktivitas potensi untuk sebagian besar komoditas, rantai tata niaga masih belum efisien dan berkeadilan, serta fluktuasi harga ditingkat produsen dan konsumen masih tinggi”.

               Hal ini juga ditunjukan oleh tingginya suku bunga pinjaman nilai tukar rupiah yang kurang mendukung sektor pertanian, masih diberlakukannya pajak eskpor terhadap komoditas pertanian serta rendahnya kredit dan investasi yang dialokasikan untuk sektor pertanian hingga saat ini. Disisi lain banyak juga permasalahan mengenai keterbatasan petani dalam memperoleh modal, input pertanian, lahan, harga yang tidak seimbang dan akses pasar. Padahal PDB sektor pertanian berdasarkan harga berlaku mempunyai peran sangat stategis. Oleh karena itu sektor pertanian memerlukan pertumbuhan ekonomi yang kukuh dan pesat. Sektor ini juga perlu menjadi salah satu komponen utama dalam program dan strategi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.

“SOAL PANGAN ADALAH SOAL HIDUP DAN MATINYA BANGSA”

Leave a Reply